Oleh: Wisnu Martha Adiputra

Tulisan singkat ini diniatkan sebagai review atas buku “New Media: An Introduction” edisi kedua. Buku ini karya Terry Flew dan diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2004. Buku ini merupakan salah satu buku tentang media baru yang paling mudah dicerna, juga memberikan banyak kasus aktual untuk jadi pelajaran dan inspirasi bagi kita di Indonesia walau mungkin untuk masyarakat Barat bisa jadi agak out of date. Saya mengambil judul chapter satu buku ini sebagai judul tulisan karena judul chapter satu ini menggambarkan keseluruhan buku.

Buku ini, di luar pengantar dan kesimpulan, terdiri sebelas chapter yang berbincang banyak tentang media baru dalam segala aspeknya. Kita mulai dari chapter pertama. Bagian ini berjudul “What’s New about ‘New Media’?” dan berusaha menjelaskan apa kebaruan dari media baru. Flew berpendapat bahwa media baru merujuk pada interaksi isi media yang digital, bentuk media yang konvergen, dan jaringan komunikasi global.

Bagian kedua mengambil judul “New Media as Cultural Technologies”. Chapter ini berbincang tentang dua posisi dalam melihat media baru, media baru itu baik atau buruk? Selain itu, bagian ini juga berupaya mendiskusikan bahwa media baru bukanlah sekadar hardware, melainkan juga software, serta sebagai sistem yang kompleks  dari pengetahuan dan pemaknaan sosial.

Pemaparan buku dalam chapter ketiga berjudul “New Media, New Economy?: Technology, Political Economy, and the Network Society”. Tulisan ini mempertanyakan adakah “ekonomi baru” sebagai akibat perkembangan media baru? Flew di dalam bagian ini berusaha kritis melihat sejarah media baru melalui perspektif ekonomi politik.

Diskusi pada bab empat berjudul “Virtual Cultures”. Chapter ini berargumen bahwa komunitas virtual mengarah pada bentuk baru komunitas dan membangkitkan kembali prinsip-prinsip kewargaan yang demokratis. Di dalam bagian ini juga diperbincangkan tiga tahap debat komunitas virtual, termasuk fase pesimistik ketika isu gap digital mengemuka.

“Digital Media” adalah topik di dalam chapter lima. Pada bagian ini dijelaskan media digital yang berarti umum, tidak hanya internet melainkan meliputi semua bentuk media yang mengombinasikan dan mengintegrasikan data, teks, suara, dan imaji. Semuanya tersimpan dan didistribusikan dalam format digital di jaringan. Motif lain dari tulisan ini adalah menunjukkan konsekuensi dari format digital pada media lama, juga implikasi langsung pada bentuk pesan seperti “narasi” dan hyperteks.

Chapter enam membahas tentang “Games: Technology, Industry, Culture”. Perkembangan dan dinamika game sebagai bentuk media baru didiskusikan di sini. Sebagai bagian dari industri game merupakan salah satu industri dengan perkembangan tercepat. Perubahannya juga luar biasa, terjadi migrasi dan penggabungan dari bentuk lama, konsol, ke arah yang lebih baru, online. Games juga merujuk pada tiga konsep lain yang lebih besar, yaitu perkembangan produk game berbasis pengakses, kecerdasan kolektif, dan budaya partisipasi.

Berbasis pada individualitas, mobilitas, keberagaman, dan toleransi, maka lahirlah apa yang didiskusikan dalam chapter tujuh, yaitu  “Creative Industries”. Industri yang berbasis ide dan inspirasi ini menjadi semakin dominan belakangan ini. Topik-topik yang berkaitan dengan “industri” dominan di sini, antara lain paten, hak cipta, merek dagang, dan desain, marak dibicarakan pada bagian ini.

Kedelapan, didedah topik berjudul “Electronic Commerce and the Global Knowledge Economy”. Pada bagian ini isu-isu ekonomi menjadi semakin penting. Perbincangan mengenai koneksi B2B atau business-to-business dan B2C atau business-to-consumer menjadi penting. Transaksi ekonomi melalui bisnis online semakin besar, sementara tidak semua kelompok masyarakat dan industri siap dengan perkembangan terbaru bisnis online.

Pada bab sembilan dijabarkan “Online Media and the Future of Higher Education”. Isu-isu pendidikan dan media baru didiskusikan di bagian ini. Ada beberapa isu turunan yang dibicarakan, yaitu pemahaman atas literasi media digital dan lingkungan media yang konvergen. Bukan berarti semua masalah pendidikan terselesaikan dengan adanya media baru, namun setidaknya topik ini bisa dibicarakan dari lima sudut pandang, yaitu: isu pragmatis, pedagogi, kebijakan, personal, dan filosofis.

“Globalisation and New Media” adalah topik yang dibicarakan dalam bab sepuluh. Seperti kita ketahui bersama, media adalah elemen sentral dalam proses globalissasi. Bagaimana sebuah isi pesan media bisa didistribusikan secara global adalah isu terpenting dari chapter ini. Media baru juga digunakan memperkuat aktivitas sosial global, dan juga mengubah cara dalam partisipasi politik.

Pada bagian kesebelas, chapter terakhir sebelum kesimpulan, dibahas “Internet Law and Policy”. Bab ini mempertanyakan hukum, kebijakan, dan pengaturan berkaitan dengan media baru. Isu-isu penting berkaitan dengan keamanan dan privasi, juga hukum hak cipta dan kekayaan intelektual dibicarakan di sini. Seperti kita ketahui bahwa media baru membuat reproduksi, diseminasi, dan modifikasi dari isi pesan digital semakin mudah dilakukan. Intinya, isu terakhir dari buku ini adalah sekaligus isu paling awal dari perkembangan media baru, yaitu apakah perkembangan media baru membawa pada informasi yang lebih bebas atau semakin terbatas?

Demikianlah, tulisan ini lebih berupaya memberi lebih banyak pada aspek resume. Sisi mereviewnya, dengan menunjukkan posisi penulis, bukan menjadi yang utama. Pertanyaan intinya adalah bagaimana kita mendapatkan pengetahuan optimal dari sebuah buku dan mengkreasi pengetahuan darinya seotentik mungkin?